|
“Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.” Begitulah pepatah orang Minang yang dikenal sebagai perantau ulet yang berhasil. Sifat merantau dengan jiwa dagang dan motivasi usaha kerja keras, menjadi bagian ciri khas dalam apresiasinya mempertahankan hidup dan beradaptasi di perantauan. Pepatah ini juga yang dipegang teguh hingga akhir hayatnya, almarhum Haji Muhammad Arbie. Terlahir dari keluarga sederhana, pasangan almarhum L. Sidimarah dan Hj. Rafiah, tanggal 3 Agustus 1920, di Blang Kejeren, Kabupaten Gayo Luas, Aceh, membuat Haji Muhammad Arbie cukup sarat dengan tantangan kehidupan pahit. Pengalaman inilah membuat motivasi dan keyakinan merubah hidup membuahkan hasil yang sungguh menakjubkan. Kerajaan bisnisnya maju dan bertumbuh pesat. Di kota kecil ini, Arbie menjalani masa kecilnya dengan kehidupan ekonomi yang kurang mapan bersama saudara perempuannya ( Arbie merupakan satu-satunya lelaki dari lima bersaudara), membantu orangtuanya berdagang kain dan kelontong. Kehidupan yang serba pas-pasan membuat kakek (paman ibundanya) yang bekerja sebagai pegawai kantor telepon Hindia Belanda di Sigli menariknya dan menyekolahkannya di Holland Indlans School (HIS), sembari bersekolah di sekolah agama Diniyah selama 3 tahun. Tahun 1941, ia menyunting gadis pujaannya, Hj. Syamsinar Ibrahim asal Kuala Simpang, yang memberinya 10 orang anak. Babak baru dimulai dengan membuka usaha pakaian jadi dan kain dari uang hasil tabungannya di Blang Kejeren. Usahanya dikembangkan dan berdagang keluar kota, hingga sampai ke Medan, Tebing Tinggi dan Pematang Siantar. Sambil berdagang, untuk menambah wawasan ia tetap menyempatkan diri membeli buku tentang agama dan dagang (bisnis). Kegemaran membaca buku tak ayal membuat wawasan dan pola pikirnya berkembang apik. "Buku adalah kunci ilmu dan saya terapkan ke dalam usaha dan ternyata berhasil,"ungkapnya dalam bukunya, "Bersyukur Kunci Kesuksesan", 81 Tahun Perjalanan Sosok H. Muhammad Arbie. Penjajahan Jepang menyirnakan asa dan kehancuran rintisan usahanya, dan terpaksa mengungsi ke tanah leluhurnya di Bayur, Sumatera Barat. Ketika Jepang hengkang, tentara NICA Belanda kembali masuk membonceng tentara Sekutu, Arbie sempat menjadi komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) melawan penjajah. Pascaperang, tahun 1947, Arbie dan keluarga hijrah ke Tebing Tinggi, ia menumpang di tempat saudara dan berdagang sepatu. Kemudian Arbie dipercaya memasok logistik kelengkapan perang pejuang dan sering mondarmandir Medan-Tebing mencari bahan untuk sepatu laskar. Usai penjajahan hengkang, ia menapak kehidupan dan melirik usaha penerbitan buku, dan sempat menjadi ketua IKAPI Sumatera Utara (1955-1970). Buku karangan Buya Hamka merupakan terbitan pertamanya dan menjadi cikal berdirinya Penerbit Firma Madjoe (Agustus 1949) di Medan. Bermula dari kitab suci Al Quran, menjadikan berkah perubahan ekonomi bagi Arbie, menjadi mapan dan melonjak drastis. Pasalnya, tahun 1952 di Medan, ketika langka dan sulit mendapatkan kitab suci dan harganya pun mencapai Rp.45 per eksp. Intuisi dan insting bisnisnya jalan, atas saran toko buku Ahmad Dahlan dan kredit modal dari BNI 1946, ia berangkat ke Singapura membeli Al Quran yang harganya hanya $ 3 (dolar Singapura, kurs saat itu $1 pernah sama dengan Rp1) dengan jumlah lumayan. Ia menjual di Medan seharga $ 20 Singapura dan mendapat keuntungan hampir 4 kali lipat dan dalam 1 bulan langsung melunasi kredit banknya. Cahaya telah menerangi jalan kehidupannya, ia membeli mesin cetak letter press dari hasil keuntungan tadi. Juga dengan kredit BNI 1946, membangun permanen toko buku kecil bernama Pustaka Madju di Jalan Sutomo, Medan, Akhirnya penerbitan Madju berkembang menjadi perusahaan penerbitan sekaligus percetakan buku-buku pelajaran yang sangat laris, selanjutnya PT. Madju Medan Cipta. Sekitar tahun 1985 merupakan zaman keemasan dan buku terbitan Madju dipakai hampir di semua sekolah dasar yang ada di Indonesia. Jumlah buku yang dicetak lebih dari 7 juta eksemplar. Untuk membantu unit percetakan di Medan, sebuah percetakan baru dibangun di kawasan Pulogadung, Jakarta (PT. Gama Cipta). Percetakan ini terutama mencetak buku-buku pesanan pemerintah untuk program sekolah dasar Inpres di seluruh Indonesia. Sangat fantastis tentunya, hingga kini tetap eksis dan mampu berkomitmen dengan mottonya "Setia Memajukan Pendidikan". Penerbit Madju yang didirikan oleh HM Arbie pada pertengahan tahun 1949 itu, saat ini masih setia menerbitkan buku-buku pelajaran sekolah. Kesuksesan Penerbitan Madju dari menerbitkan buku-buku pelajaran SD,SMP, bahkan mampu berekspansi ke unit usaha lainnya, seperti dua buah hotel (Hotel Garuda Plaza dan Hotel Garuda Citra), dan rumah sakit (RS Permata Bunda dan Klinik Bunda) yang cukup dikenal dan diminati di Kota Medan yang bernaung di dalam Grup Madju. Terakhir, Arbie mendirikan Yayasan Pendidikan Pesantren Al-Mukhlisin di Tanjung Morawa, yang mengelola pendidikan tingkat TKA/TPA, MIS, SLTP dan SMU. Saat-saat hari tuanya, ia mengelola yayasannya hingga akhir hayatnya, sampai menghadap Sang Khalik. Kini buah dari kerja kerasnya dalam bisnis, tetap eksis dan berkembang, yang dilanjutkan anak-anaknya dan sudah lama mengikuti naluri bisnis orang tuanya. "Saya dulu sering dibawa almarhum ayah ke toko, hingga bisa mengetahui pola bisnis dan terobosannya, akhirnya bisa membuat lebih maju"ungkap putra bungsunya, Hendra Arbie yang kini mengelola bisnis hotel dan percetakan. Urusan bisnis kesehatan, rumah sakit Permata Bunda dan Klinik Bunda kini ditangani putra ketiganya, dr. Rosihan Arbie, dan bertumbuh pesat dengan fasilitas peralatan modern. Ternyata, naluri bisnis H. Muhammad Arbie yang berlandaskan keyakinan dan motivasi yang kuat, bisa membaca peluang, membuat usahanya bertumbuh kembang dan menjadi warisan berharga anak-cucunya yang menjadi bagian perkembangan kota Medan. Bermula dari Al Quran dan menerangi cahaya permata sukses perjalanan hidupnya.
http://www.pinbis.com/news_detail.php?id_berita=377
|